MEDAN – Pro Duta Dare to Dream Tour 2013 yang dilakoni ke beberapa belahan wilayah Eropa seperti Jerman dan Italia menorehkan komentar beragam dari beberapa kalangan pelatih di Medan. Ada yang mengapresiasi langkah yang diambil manajemen klub, ada pula yang menilai, laga eksebisi yang digelar hanya sebagai cara pemilik klub mendapat pengakuan sebagai klub profesional.

Pelatih PSMS Medan versi PT Liga Indonesia, Suharto menilai, Pro Duta sebagai tim yang dihuni pemain-pemain muda perlu mendapat pengalaman lebih dengan bertanding dengan tim-tim di luar negeri sebagai modal mengarungi kompetisi putaran II Indonesian Premier League (IPL). “Cara Pro Duta itu cukup baik untuk menambah pengalaman bertanding pemain muda. Pemain mereka punya kesempatan bertanding dengan tim luar,” kata Suharto kemarin.

Sebagai klub profesional dan mandiri, cara seperti itu menurutnya cukup efektif dan menjadi pelajaran bagi klub-klub profesional lain yang ada di Indonesia lantaran menurutnya, saat ini hanya Pro Duta yang melakukan metode seperti itu. “Contoh yang baik bagi klub-klub profesional lain di Indonesia. Karena saat ini, hanya Pro Duta yang seperti itu di Indonesia setelah dulu, mendiang TD Pardede melakukan
hal yang sama. Saya pribadi mengapresiasi langkah yang ditempuh manajemen Pro Duta,” ungkap pelatih yang selama tiga musim menukangi tim berjuluk Ayam Kinantan itu.

Dari empat pertandingan yang digelar Pro Duta selama di Eropa, hanya menghadapi TSV Winsen yang bisa dimenangkan Faisal Azmi dkk yakni, sementara menghadapi tim senior Hamburg SV dan Hamburg SV U-23, Pro Duta harus kalah dengan skor masing-masing  4-0. Menghadapi AS Roma Primavera, skuad besutan trio pelatih Slamet Riyadi-Ansyari Lubis dan M Halim juga harus kalah 4-1.

Namun menurut Suharto, pada laga uji coba, kemenangan dan kekalahan bukanlah tujuan utama. Yang terpenting, kemampuan tim bisa berkembang dan pelatih bisa mengevaluasi kekurangan-kekurangan yang didapatkan tim tersebut. Pada uji coba, pelatih berharap taktik dan strategi bisa diterapkan dengan baik, dan jika tidak, akan ada pembenahan yang dilakukan setelahnya.

Sementara, jadwal uji coba yang padat menurutnya juga tidak berpengaruh besar bagi tim, beda dengan kompetisi. “Malah kalau menang, cenderung tidak ada yang bisa dievaluasi. Lalu soal jadwal padat, ini kan uji coba, bukan kompetisi, jadi saya rasa tidak masalah,” bebernya.

Sementara itu, Slamet Riyadi mengakui, tiga kekalahan telak dari empat laga yang digelar Pro Duta dikarenakan kesalahan-kesalahan elementer yang dilakukan barisan punggawa lini belakang. Belum lagi, absennya dua pilar utama lini belakang seperti sang kapten Suyatno dan Agus Nova,  membuat mereka harus mengoptimalkan pemain yang ada, kendati posisi awalnya bukan sebagai pemain belakang.

“Ya, kami enggak punya  stoper makanya gol-gol ke gawang kami terjadi hanya karena kesalahan yang mendasar dan masalah komunikasi dibarisaan pemain belakang. Tapi secara permainan, kami sudah banyak
perkembangan, dan berani maen terbuka,” beber pria 38 tahun itu.

Bahkan menurutnya, di babak II saat menghadapi AS Roma primavera, timnya mampu  menguasai permainan. Sayang, kurang sigapnya lini  belakang melakukan pengawalan membuat Pro Duta harus kecolongan lewat umpan terobosan lawan. “Sementara stamina pemain juga drop karena enggak cukup recovery karena main dua hari sekali, dan dengan intensitas yang tinggi di setiap pertandingan,” paparnya.

Kendati demikian, Slamet berharap, tur eropa yang dijalankan Pro Duta bisa di implementasikan di pertandingan sebenarnya. “Jadi saat sampai di Medan,  kami sudah tahu apa yang harus dibenahi secara individu dan tim. Mudah-mudahan kami bisa mengambil pengalamannya dan mengimplementasikan nanti saat kompetisi,” ujar Slamet bernada optimistis.

Hari ini, Pro duta dijadwalkan bertolak ke Amsterdam Belanda melakoni laga kontra Ajax Amsterdam B yang rencananya akan Live di MNC TV pada tanggal 22 Agustus 2013 pukul 22.30. (YY)

Leave a Reply